kebergenancing.com ,Dua puluh tahun lebih Aceh dan Republik Indonesia menutup lembaran kelam konflik bersenjata. Kesepakatan damai telah ditandatangani, senjata-senjata diredam, dan dunia bergegas melangkah ke masa depan. Namun bagi sebagian orang, perang tidak pernah benar-benar berakhir. Ia tinggal diam di balik dinding-dinding ingatan, menyelinap dalam denyut nadi, bersembunyi dalam setiap helaan napas. Luka itu menetap di tempat terdalam—di dalam DNA, seperti bisikan yang tak pernah padam.
Foto melirik baju yang di pakai ayahku sewaktu pembantaian
Yasser Arafat adalah salah satu dari mereka yang membawa beban sejarah itu. Ia dikenal hari ini sebagai aktivis yang tajam dan kritis; seorang pemuda yang berani menyuarakan kegelisahan masyarakat. Tetapi jauh sebelum keberaniannya tumbuh, Yasser pernah menjadi anak kecil kelas lima sekolah dasar yang lugu, yang dunianya hancur dalam semalam.
Tahun 2001, ketika konflik di Aceh sedang berkobar dan garis antara hidup dan mati begitu tipis, ayah Yasser keluar rumah seperti hari-hari biasanya. Tidak ada firasat buruk, tidak ada salam perpisahan yang lebih panjang dari biasanya. Ayahnya pergi sebagai seorang lelaki Aceh yang ingin menjaga harga diri dan menafkahi keluarga. Namun hanya sehari kemudian, yang kembali ke rumah bukan lagi seorang ayah—melainkan jenazah tanpa suara, tanpa penjelasan, tanpa keadilan.
Bagi Yasser kecil, hari itu menjadi batas antara masa kanak-kanak dan kedewasaan yang dipaksakan. Ia kehilangan pelindungnya, kehilangan tumpuan yang selama ini menjadi cahaya dalam hidupnya. Sejak hari itu pula, ia menjinjing rasa sedih, trauma, dan tanya yang tak kunjung memperoleh jawaban: siapa yang membantai ayahku?
Pertanyaan itu menyertai Yasser hingga dewasa. Ia tumbuh, ia belajar, ia memahami dunia sedikit demi sedikit. Tetapi ada satu ruang kosong dalam hatinya yang tak pernah bisa diisi selain oleh kebenaran. Ia tidak mencari dendam—ia mencari kejelasan. Ia ingin tahu siapa yang merenggut ayahnya; siapa yang, pada tahun 2001—di tengah perang yang mengubah banyak hal menjadi kabur—mengakhiri hidup seorang lelaki sederhana yang hanya ingin pulang ke anak dan istrinya.
Bagi Yasser, perjalanan menemukan kebenaran itu adalah bagian dari penyembuhan dirinya, bagian dari proses memulihkan martabat keluarganya yang dirampas tanpa alasan. Dua puluh tahun berlalu, tetapi rasa penasaran itu tetap hidup. Trauma itu tetap menetap. Keinginan untuk membuka tabir kegelapan itu tidak pernah padam.
Karena bagi korban konflik, damai bukan hanya perjanjian yang ditandatangani para pemimpin. Damai adalah ketika mereka mengetahui apa yang benar-benar terjadi pada orang-orang yang mereka cintai. Damai adalah ketika kebenaran tidak lagi bersembunyi.
Dan Yasser Arafat, anak kecil yang kehilangan ayahnya di tengah perang, kini berdiri sebagai seorang lelaki dewasa yang masih menunggu satu hal: sebuah jawaban yang dapat menenangkan jiwanya.
kebergenancing.com Aceh Tengah Ketua DPW Partai Solidaritas Indonesia Provinsi Aceh, T. Rival Amirudin, memulai rangkaian silaturahmi politik ke tokoh agama, tokoh pemuda, dan eks kombatan Gerakan Aceh Merdeka,Penunjukan langsung oleh Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep di DPP Jakarta menjadi pijakan
Aceh Tengah* – Ketua DPD Partai Solidaritas Indonesia Kabupaten Aceh Tengah, Yasser Arafat, meminta agar seleksi Manajer Koperasi Desa Merah Putih tidak dijadikan alat politik. Ia menyoroti tingginya ambang batas nilai yang dinilai tidak realistis bagi calon peserta dari Aceh Tengah.
Jangan
kebergenancing.com Takengon –
Lima bulan pascabencana, sistem pemulihan di Kabupaten Aceh Tengah dinilai belum menunjukkan titik terang. Masyarakat di beberapa kecamatan masih mengeluhkan lambatnya penanganan, terutama terkait bantuan hunian dan perbaikan infrastruktur jalan.
kebergenancing.com Aceh Tengah
Hujan deras di Aceh Tengah menyebabkan longsor di Kampung Pantan Damar, Rusip Antara. Longsor ini merusak badan jalan dan perkebunan warga, tapi tidak ada korban jiwa karena jauh dari permukiman.
Rahmat, tokoh masyarakat, menghimbau untuk tetap waspada karena
kebergenancing.com Hujan deras melanda Aceh, termasuk Aceh Tengah dan Bener Meriah, menyebabkan banjir kembali melanda beberapa akses jalan. Jalan pintas Kampung Wih Porak, Bener Meriah, kini belum bisa dilalui karena terendam banjir.
Warga setempat menyatakan jalan tersebut sempat dibenahi