kebergenancing.com Aceh Tengah* – Ketua DPD Partai Solidaritas Indonesia Kabupaten Aceh Tengah, Yasser Arafat, meminta agar seleksi Manajer Koperasi Desa Merah Putih tidak dijadikan alat politik. Ia menyoroti tingginya ambang batas nilai yang dinilai tidak realistis bagi calon peserta dari Aceh Tengah.
Jangan dipolitisir harapan generasi kita di Provinsi Aceh. Sayangi mereka dan orang tuanya. Jangan buat mereka kecewa dengan harapan yang tidak pasti,” tegas Yasser dalam keterangan tertulis, Senin (18/5/2026).
Program Koperasi Desa Merah Putih merupakan salah satu janji kampanye pemerintahan Prabowo-Gibran yang bertujuan membuka lapangan kerja di tingkat desa. Di Aceh Tengah, ribuan peserta rela menghabiskan waktu dan biaya untuk mendaftar sebagai calon manajer koperasi, berharap mendapat pekerjaan layak bagi generasi muda daerah.
Namun harapan itu kandas bagi banyak peserta. Berdasarkan pengumuman hasil seleksi Minggu, 17 Mei 2026, peserta wajib mencapai nilai ambang batas Tes Potensi Kognitif minimal 110. Padahal, sebagian besar calon hanya meraih skor 80–100.
Kondisi ini memicu kekecewaan mendalam, baik dari peserta maupun orang tua yang telah mendampingi hingga ke Banda Aceh untuk mengikuti ujian.
Seleksi menggunakan sistem Computer Assisted Test (CAT) yang bersifat menggugurkan dinilai terlalu berat untuk konteks daerah dan Regulasi Tidak Peka Konteks Daerah Kebijakan passing grade 110 tanpa penyesuaian regional menimbulkan pertanyaan soal kepekaan pemerintah terhadap ketimpangan kualitas pendidikan dan akses pelatihan di daerah.
Aceh Tengah memiliki 295 desa yang membutuhkan manajer Koperasi Merah Putih dari putra daerah. Jika standar seleksi tidak diturunkan atau disesuaikan, program yang bertujuan memberdayakan desa justru berpotensi menciptakan pengangguran baru.
Yasser mendesak Pemerintah Provinsi Aceh dan pusat untuk mengkaji ulang peraturan tersebut Peraturan itu harus diubah. Jangan terlalu tinggi, mengingat provinsi Aceh khususnya Kabupaten Aceh Tengah belum mampu meraih nilai tersebut,” ujarnya.
Ia menekankan, tujuan program adalah mengangkat ekonomi desa dan memberi ruang bagi generasi lokal. Bila seleksi tetap mempertahankan standar yang tidak terjangkau, maka yang terjadi adalah kegagalan struktural, bukan kegagalan individu.
Editor, Hasbi